Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan

IKHLAS

Author: Kopi Manis / Label:


    Ketika semua sibuk lalu lalang membalah setiap kertas dan lembaran merangkum ta'bir-ta'bir yang katanya senjata ampuh penakhluk kehidupan dunyawi ataupun ukhrowi,..! Di  setiapsinggasana kemulya'an, dnegan cinta kasih nya yang ankuh dan kejam tanpa ampun mnjajah stiap sudut hati sang pendamba, betapa dan betapa bahagianya.. euforia cinta nya hingga,. hingga tuli cerca'an dan gunjingan owh sungguh selamat baginya,.. Al-ikhlas menjadi saksi ketakwa’an nya.
      Pada dasar nya setiap orang mempunyai karakteristik yang berbeda – beda dan perbeda’an adalah satu fitrah manusia.
      Aban Dzaki Santri ini memang berbeda dengan santri lainya kerja’an nya cuman tdur dan tidur, kalo nggak tidur nongkrong di warung kopi tak ketinggalan rokok di sela jari nya.
      Caky begitu sapa’an akrab nya, caky jarang ikut ngaji juga sering bolos ketika ada kegiatan di pesantren Al-Ikhlas tempat dia nyantri, kecuali kegiatan rutinan pembaca’an maulid dziba’i yang biasa nya di baca setiap malam jum’at ba’da jama’ah maghrib, justru di kegiatan yang tidak di wajibkan ini Caky malah aktif, di pojok mushola tua itu Caky sambil manggut - manggut mengikuti irama rebana, Caky tampak khusu’ tidak seperti santri lain yang sambil bercanda ketawa ketiwi semau - mau nya.

Tercambuk mimpi

Author: Kopi Manis / Label:


Seorang pemuda keturunan kyai di desa Binare sangat berbeda akhlak dan tata sosialnya dengan akhlak dan budi luhur sang ayah. Sang ayah yang selalu di taati dan di hormati penduduk desa Binare itu tak pernah mendapatkan kabar buruk tentang beliau atau keluarga beliau. Setiap penduduk berfikiran sama bahwa setiap kyai pasti selalu baik dan semua keluarganya pun ikut baik, karena satu keturunan orang baik. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tak pernah terdengar kabar buruk dari keluarga kyai Tsuri. Tetapi setelah berkembang dewasa salah satu anak kyai Tsuri menjadi bahan omongan penduduk desa binare. Omongan itu bukanlah omongan yang menjunjung martabat sang ayah akan tetapi menurunkan martabat sang ayah di mata masyarakat sekitar dan masyarakat yang mengenal anak kyai itu.
“ le... sana ikut abah ke pengajian di pondok”, perintah bu nyai tsuri.
“ alah... banyak tugas sekolah numpuk nih mi’...”, elak za’im sang anak.

Cindera Jiwa